Tata Cara Shalat Gerhana

عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، أَنَّهُ كَانَ يُخْبِرُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنَّهُ قَالَ : ” إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ ، وَلَا لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَةٌ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا

Dari Abdullah bin Umar RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya gerhana matahari dan gerhana bulan tidak terjadi karena kematian seseorang atau kelahiran seseorang. Namun keduanya adalah salah satu tanda kekuasaan Allah. Maka jika kalian melihatnya, hendaklah kalian mengerjakan shalat.” (HR. Bukhari)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ  آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ  يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ ، فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا

“Sesungguhnya gerhana matahari dan gerhana bulan tidak terjadi karena kematian seorang manusia atau kelahiran seorang manusia. Maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kalian kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Shalat gerhana terbagi dua  yaitu Kusuf (gerhana matahari) dan khusuf (gerhana bulan). Adapun pelaksanaanya adalah serupa, yaitu:

  1. Shalat dimulai tanpa azan dan iqamat
  2. Takbir, membaca do’a istiftah, ta’awudz, membaca al-fatihah, membaca surat yang panjang (kira-kira satu Al-Baqarah)
  3. Ruku’ yang lama
  4. I’tidal membaca sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamd, tetapi tidak langsung sujud, melainkan membaca ta’awudz, al-fatihah, dan surat yang panjang, namun tidak sepanjang yang sebelumnya
  5. Ruku’ yang lama, tetapi tidak selama yang sebelumnya
  6. I’tidal membaca sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamd
  7. Sujud,d uduk di antara dua sujud, sujud kembali, kemudian bangkit dan melaksanakan raka’at kedua
  8. Raka’at kedua sama pelaksanaannya dengan raka’at pertama
  9. Tasyahud akhir dan salam
  10. Dengarkan khutbah

عَنْ  عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : ” لَمَّا  كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ

Dari Abdullah bin Amru bin Ash RA berkata: “Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah SAW, maka dikumandangkan seruan ‘Ash-shalaatu jaami’ah’.” (HR. Bukhari)

عَنْ  عَائِشَةَ ، أَنَّهَا قَالَتْ :  خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَصَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالنَّاسِ ، فَقَامَ ، فَأَطَالَ القِيَامَ ، ثُمَّ رَكَعَ ، فَأَطَالَ الرُّكُوعَ ، ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ القِيَامَ وَهُوَ  دُونَ القِيَامِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ ، ثُمَّ فَعَلَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ مِثْلَ مَا فَعَلَ فِي الأُولَى ، ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ  انْجَلَتِ الشَّمْسُ ، فَخَطَبَ النَّاسَ ، فَحَمِدَ اللَّهَ  وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَالَ : ” إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ  آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ  يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ ، فَادْعُوا اللَّهَ ، وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا “

Dari Aisyah RA berkata: “Terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW melaksanakan shalat gerhana bersama masyarakat. Beliau memanjangkan lamanya berdiri, lalu ruku’ dalam waktu yang lama, lalu berdiri dan memanjangkan lamanya berdiri namun tidak sepanjang berdirinya yang pertama, lalu ruku’ dan memanjangkan lamanya ruku’ namun tidak sepanjang ruku’ yang pertama, lalu sujud dalam waktu yang lama. Kemudian dalam rakaat kedua beliau melakukan seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat pertama. Beliau menyelesaikan shalat dan ternyata matahari telah nampak kembali.

Beliau lalu menyampaikan khutbah kepada masyarakat. Beliau bertahmid dan memuji nama Allah. Beliau kemudian bersabda: “Sesungguhnya gerhana matahari dan gerhana bulan tidak terjadi karena kematian seorang manusia atau kelahiran seorang manusia. Maka jika kalian melihat gerhana, berdoalah kalian kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk para akhwat juga dianjurkan untuk shalat di masjid berjama’ah

رَكِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ  غَدَاةٍ  مَرْكَبًا  فَخُسِفَتِ الشَّمْسُ ، فَخَرَجْتُ فِي نِسْوَةٍ بَيْنَ ظَهْرَانَيِ الْحِجْرِ  فِي الْمَسْجِدِ ، فَأَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَرْكَبِهِ فَقَصَدَ إِلَى مُصَلَّاهُ الَّذِي كَانَ فِيهِ ، فَقَامَ وَقَامَ النَّاسُ وَرَاءَهُ

Rasulullah SAW pada suatu pagi menaiki kendaraannya, lalu terjadi gerhana matahari. Maka saya bersama kaum wanita keluar menuju masjid di antara kamar-kamar kami. Rasulullah SAW datang dengan kendaraannya, lalu menuju tempat ia biasa shalat. Beliau berdiri untuk shalat dan masyarakat shalat di belakang beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim dengan lafal Muslim)

Source and Link (الموارد والروابط)

Tweet dari @aagym

http://arrahmah.com/read/2011/12/10/16748-panduan-ringkas-shalat-gerhana-bulan.html

Categories: Fiqh Ibadah | Tags: , , | Leave a comment

Salahuddin al-Ayyubi [1]

Kelahiran Sang Pembebas

Salahuddin al-Ayyubi (صلاح الدين يوسف ابن أيوب/ Saladin, Salah ad-din) lahir dengan nama Yusuf yang kemudian ia disebut dengan nama Salahuddin (“kebenaran dari agama/keyakinan/jalan hidup”) anak dari seorang yang terkenal dari suku Kurdi yang bernama Ayyub yag lebih dikenal dengan nama Najm ad-Din (“bintang terang agama”). Beliau lahir di sebuah kastil di Tikrit (Najm ad-Din adalah pengurus kastil tersebut, namun kepemilikan dipegang oleh sahabatnya, Bihruz) pada tahun 532 H (1137 M) pada masa kekuasaan Khalifah al-Muqtafi li-Amrillah (“dia yang menjalankan perintah Allah”) dari dinasti Abbasiyah. Pada malam kelahirannya terdapat peristiwa tidak menyenangkan, yaitu ketika pamannya, Shirkuh, bertengkar dengan seorang komandan kastil yang bernama Isfahsalar karena ia telah melecehkan seorang perempuan dan perempuan tersebut melaporkan perbuatan nista tersebut kepada Shirkuh sambil berurai air mata. Dalam kemarahannya, Shirkuh membunuh komandan tersebut, dan ketika berita tersebut terdengar oleh Bihruz, sontak ia mengusir Shirkuh, Najm ad-Din beserta keluarganya, termasuk Salahuddin. Mereka kemudian menuju ke Mosul.

Keluarga Salahuddin dan Perang Salib

Sesampainya di Mosul, Mesopotamia seorang pemimpin Arab yang tangguh, Imaduddin Zangi baru saja berkuasa dan  sedang dalam usaha yang keras dalam mempersatukan orang-orang Arab dan Muslimin untuk melawan pasukan salib, penjajah dari Eropa. Pada saat itu dunia Arab sedang dalam carut-marut keterpecahan di mana Mesopotamia terpisahkan dari Syria, Antioch berseteru dengan Aleppo, Tripoli dengan Homs, Yerusalem dengan Damaskus, dan Sunni dalam puncaknya dalam melawan Syi’ah (terutama dinasti Fatimiyah di Mesir dan kaum Assassin dengan pusatnya di Alamut, keduanya penganut Syi’ah Ismailiyah). Mendengar berita kedatangan kedua bersaudara tersebut Zangi segera memanggil mereka dan menempatkan Najm ad-Din Zangi di Baalbek dan menjadikan Shirkuh sebagai komandan berpengaruh di pasukan barisan terdepan.

November 1144 pasukan Zangi merebut Edessa di utara Mesopotamia dan menundukkan provinsi-provinsi yang mendukung tentara Salib. Kejadian ini mengguncang dataran Eropa. Melalui seorang biarawan Cistercia, Bernard de Clairvaux Perang Salib baru diserukan.  Raja Prancis Louis VI merupakan yang pertama untuk menyambut seruan tersebut. Bersamanya, ikut juga Ratu Eleanor de Aquitaine. Imaduddin Zangi meninggal pada tahun 1146 sebelum kedatangan pasukan Salib, dan beliau digantikan oleh tokoh yang lebih kuat, Nur ed-Din. Dua tahun kemudian, pasukan Salib berhasil dikalahkan dan hal tersebut memberikan kepercayaan diri yang besar untuk kaum Muslimin.

Salahuddin yang tumbuh di Baalbek mendapatkan pencerahan untuk menapaki jalan kebenaran, penuh semangat juang melawan orang kafir, dan untuk berkepribadian luhur dari Nur ed-Din. Di istana ia terkenal karena kesantunannya, kecerdasannya, kerendahan hatinya, serta belas kasihnya walaupun ia terbilang masih kecil. Di istana pula ia belajar untuk menekankan diri pada Jihad fi Sabilillah dan dalam dirirnya telah tertanam ayat berikut ini:

“Dan (untuk) mereka yang berjihad dengan keras pada kami (di dalam jalan kami), maka sungguh akan kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan kami (Agama Allah–Tauhid). Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang muhsin (yang melakukan kebaikan)” [Al-Ankabut (29): 69– dengan terjemahan tafsiriyah dari Muhsin Khan]

Jalan Menuju Tampuk Kekuasaan

Pada tahun 1163 M (558 H), Nur ed-Din mengambil peluang untuk langkah selanjutnya untuk mempersatukan dunia Arab, yaitu dengan menyerang Dinasti Fatimiyah di Mesir yang Syi’ah dan kala itu memiliki perjanjian damai dengan tentara Salib. Dinasti Fatimiyah pun pada kala itu sedang dalam kekacauan, dan tentunya memberikan peluang besar bagi Nur ed-Din untuk beraksi. Nur ed-Din memerintahkan Shirkuh untuk melaksanakan rangkaian serangan ke daerah selatan, ditemani Salahuddin yang ketika itu berusia 26 tahun.

Pada tahun 1164, dengan Salahudddin sebagai pemimpin angkatan darat, Shirkuh berhasil merebut Kairo, namun didesak mundur ketika pasukan Salib datang membantu dinasti Fatimiyah. Tiga tahun kemudian invasi ke kota Kairo kembali gagal karena adanya tentara Salib. Sampai akhirnya pada penyerangan

Pasukan Salib

yang kelima kalinya, pada 8 Januari 1169 (7 Rabi’ ats-Tsani 564 H) Shirkuh berhasil memasuki Kairo dengan kemenangan yang gemilang dan memproklamirkan dirinya sebagai raja baru bagi Mesir. Akan tetapi dua bulan kemudian ia meninggal, diduga diracun orang (menurut History Channel karena terlampau banyak makan (over-eating) (?)).

Kemudian Nur ed-Din mengangkat Salahuddin sebagai pengganti Shirkuh. Pemilihan ini tidak didasarkan karena kekuatan atau kebesaran pengaruh, melainkan karena Salahuddin menurutnya hanyalah bocah yang santun dan selalu menuruti keinginannya.

Salahuddin meminta kepada Nur ed-Din agar ayahnya, Najm ad-Din diizinkan untuk datang dan tinggal di Kairo agar kebahagiaannya terpenuhi, dan agar ia (Salahuddin) mengalami pengalaman yang serupa seperti Nabi Yusuf  as. (yaitu ketika ayahnya, Nabi Ya’qub as. menemui Nabi Yusuf ketika Nabi Yusuf menjadi orang yang berkuasa di Mesir). Maka dikabulkanlah permintaannya. Ketika ayahnya tiba di Kairo Salahuddin sangat gembira, bahkan menawarkan jabatannya sebagai raja, namun ditolak oleh ayahnya, yang berpendapat bahwa keberhasilan Salahuddin dalam meraih tampuk kekuasaan merupakan berkah dari Allah dan karenanya, ia (Salahuddin) lebih pantas untuk menerimanya. Akan tetapi, dua tahun kemudian, ketika ayahnya sedang berkuda di depan gerbang Bab an-Nashr (“gerbang pertolongan/kejayaan”), ayahnya terlempar dari kuda dan meninggal.

Pada awalnya, Salahuddin menuruti perintah Nur ed-Din, yaitu ketika Nur ed-Din memerintahkannya untuk menghilangkan pengaruh Syi’ah dan menggantinya dengan tradisi Sunni. Namun, ketika di antara tahun 1169 dan tahun 1174 usaha pasukan Salib untuk melepaskan Kairo dari genggaman Damaskus (pusat kekuasaan Nur ed-Din) mengalami kegagalan, hubungan antara Salahuddin dengan Nur ed-Din menjadi tegang, setelah Salahuddin menolak untuk mengerjakan sebuah perintah dari Damaskus. Akhirnya pada tahun 1174, Nur ed-Din memutuskan untuk menyerang Kairo. Tetapi, pada tanggal 5 Mei pada tahun yang sama ketika tengah bersiap-siap, Nur ed-Din meninggal, dan kekuasaannya diwariskan ke putranya yang baru berusia sebelas tahun.

Setahun kemudian, Salahuddin memimpin pasukan dari Mesir untuk mengambilalih kekuasaan atas Suriah dan ia akhirnya dinobatkan sebagai Sultan untuk Mesir dan Suriah, dan sekarang daerah kekuasaan pasukan Salib terjepit di antara daerah kekuasaan Salahuddin.

Bersambung…

Sumber

Perang Salib III: Perseteruan Dua Kesatria: Salahuddin Al-Ayyubi dan Richard si Hati Singa | oleh James Preston, Jr.

Categories: Jihad, Teladan | Tags: , , , , | Leave a comment

Alp Arslan dan Pertempuran Manzikert

Nama dari Sang Sultan

Alp Arslan (ألب أرسلان) dilahirkan pada tahun 421 H (1029 M) yang kemu-dian  mengganti namanya men-jadi Muhammad bin Daud Chagir setelah ia menyatakan keislamannya. Namanya sen-diri berarti “Singa yang Gagah Berani”.

Alp Arselan adalah Sultan kedua dari Kesultanan Seljuq yang membentang dari Persia sampai Turki (pada tahun-tahun berikutnya daerah Seljuqi melebar sampai Asia Tengah). Dia mewarisi daerah kekuasaan di Khurasan dari ayahnya, Daud pada tahun 1059 sementara daerah Oran diwariskan kepadanya dari pamannya pada tahun 1063, dan menjadi penguasa tunggal Persia dari sungai Oxus sampai Tigris. Dalam menjalankan pemerintahannya ia dibantu oleh Nizam al-Mulk, seorang negarawan yang paling cakap pada masa awal pemerintahan Alp Arselan. Pemerintahannya berlangsung dengan baik dan ia berhasil menundukkan kelompok-kelompok yang saling bersaing sehingga ia dapat menciptakan kedamaian dan keamanan dalam wilayah kekuasaannya.

Ekspedisi pertamanya diawali dari keinginannya untuk menguasai kekayaan besaryang dipegang oleh Gereja St. Basil yang berada di Caesaria yang bertempat di ibukota Cappadocia, kemudian setelah sukses menundukkan kota tersebut ia menyeberang sungai Eufrat dan menuju ke Goergia dan Armenia yang pada tahun 1064 berhasil ia tundukkan. Pada tahun 1068 ia menyerang Romawi Byzantium. Kaisar Romawi pada saat itu Romanus Diogenes dengan memimpin secara langsung pasukannya berhadapan dengan pasukan Seljuq di Cihcia. Dalam 3 ekspedisi yang berat (dua di antaranya dipimpin oleh Kaisar Romanus dan satu lagi dipimpin oleh Manuel Comnemnus) pasukan Seljuq berhasil dihalau dan dipaksa mundur sampai ke seberang sungai Eufrat. Setelah kekalahan tersebut terjadilah pertempuran yang terkenal yang bertempat di Manzikert

Awal Pertempuran

Alp Arselan memimpin pasukannya dari sebelah utara Danau Van menuju Manzikert, yang kemudian ia serbu dan kuasai. Kemudian ia menuju Edessa, akan tetapi ia gagal menguasainya. Setelah itu Kaisar Romanus menuju ke daerah tersebut dan mulai mengumpulkan pasukannya. Jumlah pastinya tidak diketahuipastinya. Menurut sejarawan Muslim kontemporer jumlahnya mencapai 200.000 sampai 400.000, akan tetapi jumlah ini menurut sejarawan lainnya terlampau banyak. Itu mungkin jumlah “yang diperkirakan” menurut J. F. C. Fuller, dan memang jumlah pasukan Romawi lebih banyak dari yang dibawa oleh pihak Seljuq, setidaknya pada awal pertempuran. Namun, ketika pertempuran berlangsung, jumlah mereka kurang lebih seimbang. Inti masalah dari sebuah pasukan bukanlah jumlahnya, melainkan kedisiplinannya, dan kesetiaannya. Romanus sendiri kesulitan untuk mendapatkan kesetiaan dari pasukan bayaran Jerman yang terlibat dalam penjarahan kota walaupun telah diperintahkan untuk tidak melakukannya. Lebih buruk lagi, perwira utamanya mendukung konspirasi untuk melawannya yang digalang oleh istri kaisar dan anak kaisar sendiri, Michael VII.

Romanus berhenti di Theodosiopolis (Erzerum) untuk menyelesaikan persiapannya. Dia yakin bahwa Alp Arselan sedang ada di Persia, maka ia berencana untuk menguasai Manzikert dan merebut Khilat, sekitar 30 mil ke selatan untuk mendirikan markas untuk menyerang Persia. Ia memimpin pasukan ke Manzikert, sementara penyerangan Khilat diserahkan kepada pasukan Frank di bawah pimpinan Roussel de Bailleul. Karena pertahanan di kedua kota ini tidaklah begitu kuat, penyerbuan seharusnya berjalan lancar.

Akan tetapi berbeda dengan perkiraan Romanus bahwa Alp Arslan sedang berada di Persia, ternyata Alp Arslan sedang berada di Syria, tempat ia bersiap-siap untuk menyerang kerajaan Fatimiyah (yang beraqidah Syi’ah). Ketika ia menyadari kemajuan pasukan Romawi, ia berangkat dengan pasukan yang tersedia dan ketika di Mosul ia menambah lagi 14.000 pasukan, kemudian menuju ke Khoi dimana ia menerima bantuan pasukan dari Azerbaijan.

Romanus dengan mudah menundukkan Manzikert, dan kemudian melemahkan pasukannya sendiri dengan mengirim bantuan pasukan kepada Bailleul untuk menyerang Khilat. Seberapa banyak pasukan yang diserahkan kepada Bailleul tidak diketahui jumlah pastinya. Akan tetapi, ketika Alp Arslan seperti muncul entah darimana, Bailleul mundur tetapi tidak mundur kepada kaisar Romanus, melainkan pergi menjauhi kedua pasukan (singkatnya: KABUUUUR!!!). Khilat tentu saja jatuh ke tangan tentara Seljuq, dan segera menuju Manzikert.

Pertempuran Utama 

Ketika Advanced Guard  Kaisar Romanus pergi untuk berhadapan dengan pasukan Alp Arslan, ia mengirim pesan kepada Bailleau untuk kembali, sebuah usaha yang sia-sia. Pun begitu, sang Kaisar tidak kekurangan percaya diri. Ia bersandar pada taktik klasik yang telah terbukti selama berabad-abad: pasukan Byzantium yang bersenjata lebih berat dan berlapis baju zirah seringnya lebih unggul dalam menghadapi pasukan kavaleri nomaden yang bersenjata lebih ringan. Bahkan, ketika Arslan mengirim duta perdamaian, ia menolaknya mentah-mentah dan meminta kesediaan Arslan untuk menyerah dan berjanji untuk tidak menyerang daerah Romawi lagi. Tanpa kesepakatan dari kedua belah pihak, pertempuran tidak terhindarkan lagi, dan mereka segera bersiap-siap untuk bertempur.

Pada tanggal 26 Agustus 1071, betepatan dengan 27 Dzul-Qa’idah, kedua belah pasukan akhirnya saling berhadapan. Kaisar Romanus memutuskan untuk menggunakan taktik standar yang dipakai pasukan Romawi untuk menghadapi kavaleri Turki: mempertahankan barisan dengan infantri dan kavaleri berat mereka dan memojokkan lawan ke sebuah medan alami di mana kecepatan dan menuver lawan tidak bisa  digunakan (metode andalan kavaleri Turki dan nomaden lainnya seperti Mongol. pen.). Pada awal pertempuran, taktik pasukan Turki dengan meluncurkan anak panah  dari jarak jauh menghasilkan hasil yang cukup memuaskan dengan melukai kuda dan menebar ketakutan di antara pasukan bayaran dari suku Kiptchak dan Petcheneg sehingga mereka meninggalkan medan tempur. Karena pasukan kavaleri berkurang karena kerja para pemanah Alp Arslan, Kaisar Romanus memerintahkan pasukannya untuk maju. Hasilnya cukup baik bila Romanus hanya ingin mereka mundur dan meninggalkan kemah mereka, namun area tersebut sangat terbuka bagi pasukan Alp Arslan untuk mundur kemanapun mereka inginkan dan mereka terus menghindar dari pasukan Romawi selama pertempuran pada hari itu (menjalankan taktik hit and run).

Ketika kegelapan mulai menyelimuti, Romanus menghadapi dilema. Untuk maju terus ke depan, tidak akan memberi hasil yang berarti, dan untuk mundur kembali ke kemah tanpa hambatan adalah mustahil. Dengan sedikitnya pilihan yang tersedia, ia memerintahkan pasukannya untuk kembali ke kemah. Pasukan Seljuk dengan tangkas mengejar pasukan Romawi, dan ketika pasukan Seljuq sudah mendekati pasukan Romawi, Kaisar Romanus segera memerintahkan pasukannya untuk berbalik dan menghadapi mereka. Namun hanya pasukan yang ada di dekatnya yang menanggapi perintah tersebut, sementara pasukan garis belakang tidak menanggapinya. Apakah karena cuek, atau yang paling mungkin adalah hasil rekayasa, tidak ada yang tahu pasti, karena  garis belakang yang terus mundur dipimpin oleh Andronicus Ducas, anak dari saingan utama Kaisar Romanus, dan apabila ada hasil rekayasa pastilah ia dalangnya. Hasil dari ketidakacuhan pasukan Romawi tersebut benar-benar terlihat dampaknya, Romanus tertinggal mengahadapi pasukan Seljuq dengan pasukan yang lebih sedikit. Pasukan Romanus melawan dengan keras, namun kesempatan baik tidak ada pada mereka, dan ketika kegelapan telah sirna, kemenangan sudah di tangan Alp Arslan dan pasukan Seljuq.

Akhir dari Pertempuran

Ketika sang kaisar Romawi yang terluka dan berdebu dibawa ke hadapan sang Sultan Seljuq, ia menolak untuk mempercayai bahwa orang yang dibawa ke hadapannya itu adalah seorang kaisar, setelah memeriksa identitas sang Kaisar, Sultan Seljuq itu menginjak leher sang kaisar dan memeksanya untuk mencium tanah, dan berkata:

“Andai diriku ini yang dibawa ke hadapanmu, apa yang akan kau lakukan terhadapku?”

“Mungkin aku akan membunuhmu, atau memamerkanmu (memasung pen.) di jalan di Konstantinopel”, jawab Kaisar Romanus.

“Hukuman dariku terhadapmu lebih berat dari itu. Aku mengampunimu dan membebaskanmu”, balas Sultan Arslan.

Setelah itu sang Sultan memperlakukan sang Kaisar dengan baik, dan sekali lagi menawarkan perjanjian damai yang sudah ia usahakan sebelum pertempuran.

Kaisar Romanos tetap berada dalam tahanan sang sultan selam seminggu, dan selama waktu-waktu tersebut ia diperbolehkan untuk makan bersama Sultan sementara perjanjian disetujui. Isi perjanjian tersebut adalah:Antioch, Edessa, Hierapolis, dan Manzikert diserahkan kepada kesultanan Seljuq. Sang Kaisar dibebaskan dengan tebusan 1.5 juta keping emas sebagai pembayaran awal ditambah 360.000 keping emas sebagai upeti pertahun. Ditambah lagi, diadakannya pernikahan politik antara anak laki-laki Alp Arslan dengan putri dari Romanus. Sang Sultan kemudian memberikan banyak hadiah dan mengutus dua emir dan pasukan mameluke sebagai pangawal Kaisar selama perjalanannya kembali ke Konstantinopel.

Tidak lama setelah kembali ke tampuk kekuasaan, Romanus mendapati dirinya dalam masalah besar. Walaupun ia berhasil untuk mendirikan pasukan yang loyal, ia dikalahkan tiga kali dalam peperangan melawan keluarga Ducas. Romanus akhirnya digulingkan dari takhta, kedua matanya dibutakan, dan diasingkan di pulau Proti. Tidak lama kemudian ia mengalami infeksi akibat luka dari pembutaan matanya dan kemudian meninggal. Ketika badannya dibawa ke kota Anatolia yang telah ia pertahankan dengan mati-matian, bukan arak-arakan yang megah yang diberikan, melainkan arak-arakan yang memalukan di atas keledai dengan muka yang telah membusuk.

“Hukuman dariku terhadapmu lebih berat dari itu. Aku mengampunimu dan membebaskanmu”

Akhir Hayatnya

Setelah kemenangan yang gemilang dalam pertempuran Manzikert, daerah kesultanan Seljuq meluas sampai ke dataran Asia Barat. Kemudian Alp Arslan mengalihkan tujuannya ke Turkistan, tempat asal leluhurnya. Dengan pasukan yang amat kuat ia menuju tepi sungai Oxus, akan tetapi sebelum ia menyaberanginya, ia merasa perlu untuk menundukkan beberapa benteng pertahanan yang salah satunya dipertahankan mati-matian oleh seorang gubernur yang bernama Yusuf Al-Harizmi, seorang Khwarizmi. Dia pada akhirnya bisa ditundukkan dan dibawa ke hadapan sultan sebelum akhirnya diputuskan untuk dieksekusi. Dalam keputusasaannya, ia mengambil belatinya, dan menerjang untuk membunuh sang Sultan. Alp Arslan yang terkenal sebagai pemanah paling mahir pada masanya, meminta para pengawalnya untuk menyingkir dan mebidikkan busurnya, namun ia terpeleset dan Gubernur Yusuf berhasil menancapkan belatinya ke dada sang Sultan yang kelak akan menyebabkan kematiannya empat hari kemudian, pada tanggal 25 November 1072 M bertepatan pada tanggal 12 Rabi’ al-Awwal 465 H. Ketika terbaring untuk menjemput ajal, ia membisikkan pada anaknya bahwa keangkuhannya telah membunuhnya dan berkata:

“Aku dikelilingi oleh pejuang-pejuang hebat yang mengabdikan dirinya untukku, siang maupun malam aku dijaga oleh mereka, dan sudah seharusnya aku mengizinkan mereka untuk melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Aku telah diperingatkan untuk tidak berusaha melindungi diriku sendiri dan membiarkan kenekatanku mengalahkan akal sehatku. Aku melupakan peringatan-peringatan tersebut, dan disinilah aku terkapar sekarat dalam penyesalan. Ingatlah pelajaran-pelajaran yang telah dipelajari, dan jangan biarkan kecongkakanmu menyaingi akal sehatmu…”

Ia kemudian disemayamkan di Merv, bersebelahan dengan makam ayahnya, Chagri Beg. Di atas batu nisannya terukir:

“Kepada mereka yang melihat kehebatan Alp Arselan yang setinggi langit, ketahuilah! sekarang ia berada di bawah tanah yang hitam”

Sumber

100 Decisive Battles: From Ancient Times to Present | by Paul K. Davis

Wikipedia.com

Categories: Jihad, Teladan | Tags: , , , , , | Leave a comment

Syura Bukan Demokrasi

Untuk menghilangkan kerancuan mengenai Syura dengann sistem Demokrasi, maka ana sertakan artikel berikut ini dari http://globalmuslim.web.id untuk menemani artikel sebelumnya.

Main Article (المادة الرئيسية)

Anggapan bahwa syura (musyawarah) sama dengan demokrasi, telah masyhur dan  sudah lama adanya.  Meski demikian, anggapan ini sesungguhnya tidak benar. “Demokrasi bagi kita ialah musyawarah,” kata Sukarno, presiden pertama RI, ketika menyampaikan pidato berjudul, “Negara Nasional dan Cita-Cita Islam,” di Universitas Indonesia, di Jakarta 7 Mei 1953.

Namun demikian, tak sedikit pandangan kritis yang memandang bahwa syura bukanlah demokrasi. Abdul Qadim Zallum (1990), misalnya, menegaskan, ”Demokrasi bukanlah syura, karena syura adalah meminta pendapat (thalab ar-ra’y), sedangkan demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan sistem [pemerintahan]…”
Tulisan ini bertujuan menjelaskan lebih lanjut bahwa syura (musyawarah) bukanlah demokrasi, dengan menguraikan dua hal utama, yaitu: (1) hakikat syura dan hal-hal yang berkaitan dengannya; (2) perbedaan fundamental antara syura dan demokrasi.
Tulisan ini menjelaskan lebih lanjut perbedaan syura dan demokrasi, dengan merujuk pada tiga kitab berikut: Asy-Syakhshiyyah Al-Islâmiyyah Juz I (Bab Asy-Syura hlm. 246-261), karya Taqiyuddin an-Nabhani (1994), Nizhâm al-Hukm fi Al-Islâm (Bab Majelis Ummat, hlm. 214-224) karya Abdul Qadim Zallum (2002), dan Ad-Dimuqrathiyah Nizhâm Kufr  karya Abdul Qadim Zallum (1990).
Hakikat Syura
Menurut pengertian bahasa, syura adalah mashdar (kata-dasar) dari kata syâwara (Zallum, 2002: 216). Syura secara bahasa memiliki banyak makna. Menurut Ibnu Manzhur, dalam Lisân al-‘Arab(II/379-381), pada pasal sya-wa-ra, makna syura antara lain: mengeluarkan madu dari sarang lilin [lebah] (istikhrâj al-‘asl min qursh asy-syamâ’); memeriksa tubuh hamba sahaya perempuan dan binatang ternak pada saat pembelian (tafahhush badan al-amah wa ad-dâbbah ‘inda asy-syirâ’); menampakkan diri dalam medan perang (isti’râdh an-nafs fi maydân al-qitâl); dan sebagainya (Al-Khalidi, 1980:  141; Zallum, 2002: 216).
Adapun menurut pengertian syariah—yang didasarkan pada nash-nash al-Quran dan as-Sunnah—syura adalah mengambil pendapat (akhdh ar-ra’y[i]) (An-Nabhani, 1994: 246). Jelasnya, syuraadalah mencari pendapat dari orang yang diajak bermusyawarah (thalab ar-ra’y[i] min al-mustasyâr) (Zallum, 2002: 216). Istilah lain syura adalah masyûrah (An-Nabhani, 2001: 111) atau at-tasyâwur(An-Nabhani, 1994: 246).
Taqiyuddin an-Nabhani (1994: 246) mengatakan bahwa syura dilakukan oleh setiap amir (pemimpin) terhadap orang-orang yang dipimpinnya, misalnya oleh seorang khalifah, komandan pasukan (qâ’id), atau oleh setiap orang yang mempunyai kewenangan/otoritas (shâhib ash-shalahiyah). Syura dapat dilakukan juga di antara suami-istri, misalnya untuk memusyawarahkan penyapihan anak mereka sebelum dua tahun (lihat QS al-Baqarah [2]: 233).
Dalam sistem Khilafah, syura secara kelembagaan formal dilaksanakan dalam Majelis Umat, yang merupakan lembaga wakil-wakil umat dalam musyawarah dan muhâsabah (pengawasan) terhadap Khalifah (Zallum, 2002: 222). Karena itulah, fungsinya antara lain melakukan musyawarah dengan Khalifah. Namun, Majelis Umat dalam negara Khilafah tidak mempunyai kewenangan legislatif seperti parlemen dalam sistem demokrasi. Fungsi legislasi dalam arti melakukan adopsi (tabanni) hukum syariah dari sejumlah hukum syariah yang ada dalam satu masalah untuk mengatur urusan rakyat hanya menjadi otoritas Khalifah, bukan yang lain (Zallum, 2002: 44).
Hukum melakukan syura menurut Abdul Qadim Zallum adalah mandûb (sunnah), bukan wajib (2002: 217-218). Ini sejalan dengan pandangan para ahli tafsir terkemuka yang menyatakan perintah Allah SWT kepada Rasulullah saw. untuk melakukan syura dalam al-Quran surah Ali Imran (3): 159 adalah perintah mandûb, bukan perintah wajib. Mereka itu, misalnya, Ibn Jarir ath-Thabari (Jâmi’ al-Bayân, IV/153), Al-Alusi (Rûh al-Ma’âni, IV/106-107), Az-Zamakhsyari (Al-Kasysyâf. I/474), Imam al-Qurthubi (Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, IV/249-252) dan Ibn al-‘Arabi (Ahkâm al-Qur’ân, I/298).
Jadi, meskipun ada tuntutan (thalab) dari al-Quran untuk melakukan syura, misalnya dalam frasa wa syâwir hum fi al-amri (bermusyawarahlah kamu dalam urusan itu) (QS Ali Imran [3]: 159), ada qarînah(indikasi) yang menunjukkan tuntutan tersebut bukan tuntutan pasti (thalab jâzim)—yang kesimpulan hukumnya wajib, melainkan tuntutan tidak pasti (thalab ghayr jâzim), yang kesimpulan hukumnyamandûbQarînah tersebut antara lain, bahwa pada ayat tersebut terdapat frasa “fa idza azam<span>ta</span> fatawakkal ‘ala-llah” (kemudian jika <span>kamu</span> telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah). Ayat ini jelas menyandarkan ‘azam (tekad bulat)–yaitu maksud untuk melaksanakan sesuatu dan mengambil keputusan–hanya kepada Rasulullah saw., bukan kepada orang-orang yang diajak musyawarah. Karenanya, dalam banyak kebijakannya, Rasul mengambil keputusan tanpa  bermusyawarah dengan para Sahabat, seperti dalam pengangkatan parawali (gubernur), pengangkatan para qâdhi (hakim), para sekretaris (kuttâb) dan para pemimpin sariyahdan pasukan; juga penandatanganan gencatan senjata dan sebagainya (Zallum, 2002: 217-218). Ini menunjukkan syura adalah mandûb, bukan wajib. Yang melakukannya akan mendapat pahala, sedang yang meninggalkannya tidak berdosa.
Siapa yang berhak melakukan syuraSyura sesungguhnya adalah hak kaum Muslim semata. Artinya, pihak pemegang kewenangan (shâhib ash-shalahiyah), seperti Khalifah, ketika hendak meminta atau mengambil pendapat, tidak mengambilnya kecuali dari kaum Muslim. Tegasnya, syura adalah proses pengambilan pendapat yang khusus di kalangan internal sesama orang Islam. Tidak boleh dalam syuramengambil pendapat dari orang kafir, meskipun boleh (jâ’z) orang kafir menyampaikan pendapat (ibdâ’ ar-ra’y) kepada orang Islam dan boleh kaum Muslimin mendengarkan pendapat (sama’ ar-ra’y) dari orang kafir tersebut (An-Nabhani, 2001: 111).
Kekhususan syura hanya untuk kaum Muslim ditunjukkan, misalnya, oleh firman Allah SWT:
Disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu  (QS Ali Imran [3]: 159).
Ayat ini menunjukkan bahwa sikap-sikap Rasul saw., seperti memohonkan ampunan kepada Allah, tidak mungkin beliau lakukan, kecuali bagi kaum Muslim. Sebab, Allah telah melarang Rasul memintakan ampunan kepada orang musyrik (Lihat: QS at-Taubah [9]: 113). Karena itulah, bermusyawarah juga tidaklah dilakukan Rasul, kecuali dengan kaum Muslim (An-Nabhani, 1994: 247).
Lalu apakah dalam musyawarah, pendapat yang diambil selalu berdasarkan suara mayoritas seperti halnya dalam demokrasi? Memang, dalam sistem demokrasi suara mayoritaslah yang menjadi penentu dalam segala bidang permasalahan. Adapun dalam syura, kriteria pendapat yang diambil bergantung pada bidang permasalahan yang dimusyawarahkan. Rinciannya, sebagaimana uraian Abdul Qadim Zallum (1990) dalam Ad-Dimuqrathiyah Nizhâm Kufr, adalah sebagai berikut.
       
 Pertama: dalam masalah penentuan hukum syariah (at-tasyrî’), kriterianya tidak bergantung pada pendapat mayoritas atau minoritas, melainkan pada nash-nash syariah (al-Quran dan as-Sunnah). Sebab, yang menjadi  Pembuat Hukum (Al-Musyarri’ , The Law Giver)  hanyalah Allah SWT, bukan umat atau rakyat. Adapun pihak yang mempunyai kewenangan untuk mengadopsi (melakukan proses legislasi) hukum-hukum syariah dalam sistem Khilafah adalah Khalifah saja, bukan Majelis Umat. Khalifah tidak wajib meminta pendapat Majelis Umat mengenai hukum-hukum syariah yang akan dilegislasikannya, meskipun hal ini boleh dia lakukan. Jika Khalifah meminta pendapat Majelis Umat mengenai hukum-hukum syariah yang hendak diadopsinya, maka pendapat Majelis Umat tidak mengikat Khalifah, meskipun pendapat itu diputuskan berdasarkan suara bulat atau suara mayoritas.
Dalilnya adalah karena Rasulullah saw. pernah mengesampingkan pendapat kaum Muslim yang menolak penetapan Perjanjian Hudaibiyah. Padahal pendapat kaum Muslim waktu itu merupakan pendapat mayoritas. Namun, toh Rasulullah saw. menolak pendapat mereka, dan tetap menyepakati Perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah saw. bersabda kepada mereka:
«إِنِّي عَبْدَ اللهِ وَ رَسُوْلَهُوَ لَنْ أُخَالِفَ أَمْرَهُ»
Sesungguhnya aku ini adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Sekali-kali aku tidak akan menyalahi perintah-Nya (HR al-Bukhari dan Muslim; lihat: Fath al-Bâri, VI/276; Shahîh MuslimXII/141; Majma’ Az-Zawâ’id wa Manba’ al-Fawâ’d, V/225).
         
Kedua: dalam masalah yang berhubungan dengan aspek-aspek profesi dan ide yang membutuhkan keahlian, pemikiran dan pertimbangan yang mendalam, maka yang dijadikan kriteria adalah ketepatan atau kebenarannya; bukan berdasarkan suara mayoritas atau minoritas. Jadi masalah yang ada harus dikembalikan kepada para ahlinya yang berkompeten. Merekalah yang dapat memahami permasalahan yang ada dengan tepat. Jadi, masalah-masalah kemiliteran dikembalikan kepada para pakar kemiliteran; masalah-masalah fikih dikembalikan kepada para fukaha dan mujtahid; masalah-masalah medis dikembalikan kepada para dokter spesialis; masalah-masalah teknik dikembalikan kepada para pakar insinyur teknik; masalah-masalah ide/gagasan dikembalikan kepada para pemikir besar. Demikianlah seterusnya.
Dalil untuk ketentuan ini adalah peristiwa ketika Rasulullah saw. mengikuti pendapat Hubab bin al-Mundzir pada Perang Badar–yang saat itu merupakan pakar dalam hal tempat-tempat strategis–yang mengusulkan kepada Nabi saw. agar meninggalkan tempat yang dipilih beliau sekiranya ketentuan tempat itu bukan dari wahyu. Hubab memandang tempat tersebut tidak layak untuk kepentingan pertempuran. Lalu Rasulullah pun mengikuti pendapat Hubab dan berpindah ke suatu tempat yang ditunjukkan oleh Hubab. Jadi, Rasulullah saw. telah meninggalkan pendapatnya sendiri dan tidak meminta pertimbangan kepada para shahabat lainnya dalam masalah tersebut (Lihat kisah Perang Badar ini selengkapnya dalam Sîrah Ibnu Hisyâm, II/272; Thabaqat Ibnu Sa’ad, II/15; Târikh Ibnu Khaldun, II/751; As-Sîrah li Ibn Katsîr, II/380-402).
       
 Ketiga: masalah-masalah yang langsung menuju pada amal/tindakan (bersifat praktis), yang tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan mendalam, maka yang menjadi patokan adalah suara mayoritas, sebab mayoritas orang dapat memahaminya dan dapat memberikan pendapatnya dengan mudah menurut pertimbangan kemaslahatan yang ada. Misal: masalah-masalah seperti: apakah kita akan memilih si A atau si B (sebagai kepala negara atau ketua organisasi misalnya), apakah kita akan keluar kota atau tidak, apakah kita akan menempuh perjalanan pada pagi hari atau malam hari, apakah kita akan naik pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api. Masalah-masalah seperti ini dapat dijangkau oleh setiap orang sehingga mereka dapat memberikan pendapatnya. Oleh karena itu, dalam masalah-masalah seperti ini suara mayoritas dapat dijadikan pedoman dan bersifat mengikat.
Dalil untuk ketentuan tersebut adalah peristiwa yang terjadi pada Rasulullah saw. ketika Perang Uhud. Saat itu Rasulullah saw. dan para Sahabat senior berpendapat bahwa kaum Muslim tidak perlu keluar dari Kota Madinah. Adapun mayoritas Sahabat–khususnya para pemudanya–berpendapat bahwa kaum Muslim hendaknya keluar dari Kota Madinah guna menghadapi kaum Quraisy di luar kota Madinah. Jadi, pendapat yang ada berkisar di antara dua pilihan, keluar Kota Madinah atau tidak. Karena mayoritas Sahabat berpendapat untuk keluar Kota Madinah, maka Nabi saw. mengikuti pendapat mereka dan mengabaikan pendapat para Sahabat senior. Beliau akhirnya berangkat menuju Uhud di luar Kota Madinah untuk menghadapi pasukan Quraisy (Lihat kisah Perang Uhud ini selengkapnya dalam Sîrah Ibnu Hisyâm, III/67; Thabaqat Ibnu Sa’ad, II/38; Târîkh Ibnu Khaldun, II/765; Zâd al-Ma’âd, II/62; Fath al-Bâri, XVII/103).
Perbedaan Syura dengan Demokrasi
Dari uraian di atas tentang syura, dapat kita pahami adanya perbedaan fundamental antara syura dan demokrasi. Seperti telah dikutip sebelumnya, Abdul Qadim Zallum (1990) secara ringkas membandingkan sekaligus membedakan demokrasi dan syura dengan perkataannya, ”Demokrasi bukanlah syura karena syura adalah meminta pendapat (thalab ar-ra’y), sedangkan demokrasi adalah suatu pandangan hidup dan kumpulan ketentuan untuk seluruh konstitusi, undang-undang, dan sistem [pemerintahan] …” 
Ini berarti, menyamakan syura dengan demokrasi bagaikan menyamakan sebuah sekrup dengan sebuah mobil. Tidak tepat dan tidak proporsional. Mengapa? Sebab, syura hanyalah sebuah mekanisme pengambilan pendapat dalam Islam, sebagai bagian dari proses sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Adapun  demokrasi bukan sekadar proses pengambilan pendapat berdasarkan mayoritas, namun sebuah jalan hidup (the way of life) yang holistik yang terrepresentasikan dalam sistem pemerintahan menurut peradaban Barat. Falta bahwa demokrasi adalah sebuah tipe sistem pemerintahan dapat dibuktikan, misalnya, dengan pernyataan mantan Presiden AS Lincoln pada peresmian makam nasional Gettysburg (1863) di tengah berkecamuknya Perang Saudara di AS. Lincoln menyatakan, ”Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.” (Melvin I. Urofsky, 2003: 2).
Karena itu, menyamakan syura dengan demokrasi tidaklah tepat dan jelas tak proporsional. Jika ingin tepat dan proporsional, sistem demokrasi seharusnya dibandingkan dengan sistem Khilafah, bukan dengan syura; atau syura seharusnya dibandingkan dengan prinsip suara mayoritas, bukan dengan demokrasi.
Memang, ada kemiripan antara syura dan demokrasi, yang mungkin dapat menyesatkan orang untuk menganggap syura identik dengan demokrasi. Kemiripan itu ialah, dalam syura ada proses pengambilan pendapat berdasarkan suara mayoritas, seperti terjadi dalam Perang Uhud, identik dengan yang ada dalam demokrasi (An-Nahwi, 1985: 93-94). Namun, dengan mencermati penjelasan tentang syura di atas, masalah kemiripan ini akan gamblang dengan sendirinya. Sebab, tak selalu syura berpatokan pada suara mayoritas. Ini sangat berbeda dengan demokrasi yang selalu menggunakan kriteria suara mayoritas untuk segala bidang permasalahan. Selain itu, syura hanyalah hak kaum Muslim yang dilaksanakan di antara sesama umat Islam ketika mereka bertukar pikiran untuk mengambil suatu pendapat. Orang kafir tidak boleh ikut serta dalam proses syura. Ini jelas berbeda dengan demokrasi yang menjadikan Muslim dan non-Muslim bisa bercampur-aduk untuk menetapkan suatu pendapat. Jika demikian kontras bedanya, sekontras perbedaan warna putih dan hitam, lalu di mana lagi letak kesamaan syura dan demokrasi? Samakah yang putih dengan yang hitam?
Kemiripan syura dengan demokrasi dalam tersebut menjadi lebih tak bermakna jika kita mengkaji ciri-ciri sistem demokrasi secara lebih mendasar dan komprehensif. Menurut Zallum (1990) sistem demokrasi mempunyai ciri-ciri: berlandaskan pada falsafah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan); dibuat oleh manusia; didasarkan pada 2 (dua) ide pokok: (1) kedaulatan di tangan rakyat; (2) rakyat sebagai sumber kekuasaan, memegang prinsip suara mayoritas dan menuntut kebebasan individu (freedom) agar kehendak rakyat dapat diekspresikan tanpa tekanan.
Hanya dengan memperhatikan falsafah demokrasi, yaitu sekularisme, maka jurang perbedaan syuradan demokrasi akan semakin lebar. Sedemikian lebarnya sehingga mustahil terjembatani. Sebab, syuratidak lahir dari akidah (falsafah) sekularisme, melainkan lahir dari akidah Islam. Syura adalah hukum syariah yang dilaksanakan sebagai bagian dari perintah Allah. Sebaliknya, demokrasi lahir dari rahim ide sekularisme yang kufur. Sebab, setelah terjadi sekularisasi, yakni setelah agama dipisahkan dari kehidupan sehingga agama tidak lagi mengatur urusan kehidupan manusia seperti politik, maka dengan sendirinya manusia itu sendirilah yang membuat aturan hidupnya. Inilah asal-usul ideologis lahirnya demokrasi di negara-negara Eropa pasca Abad Pertengahan (V-XV M), setelah sebelumnya masyarakat Eropa ditindas oleh kolaborasi antara raja/kaisar–yang berkuasa secara despotik dan absolut–dengan para agamawan Katolik yang korup dan manipulatif (An-Nabhani, 2001: 27).
Kesimpulan 
Berdasarkan seluruh uraian di atas, jelaslah bahwa syura tidak identik dengan demokrasi. Syurabukanlah demokrasi, sebab syura adalah pengambilan pendapat sedangkan demokrasi adalah sistem pemerintahan Barat yang berasaskan pada ide sekularisme yang kufur. Adanya kemiripan antara syura dan demokrasi tidak ada maknanya sama sekali, sebab keduanya mempunyai basis ideologi yang berbeda secara diametral.
Perlu diingat, sistem demokrasi telah dijadikan salah satu senjata Barat untuk menghancurkan Islam. Ini tampak ketika ketika negara-negara Barat mengadakan Konferensi Berlin pada akhir abad ke-18 M. Negara-negara penjajah itu memang tidak mencapai kata sepakat bagaimana membagi-bagi Negara Khilafah Utsmaniyah–mereka sebut sebagai The Sick Man–andaikata “orang sakit” ini telah masuk liang lahat. Namun, mereka menyepakati satu hal, yaitu memaksa Khilafah untuk menerapkan sistem demokrasi. Akhirnya, Khilafah menerapkan sistem kementerian (al-wuzarah) seperti dalam sistem demokrasi, sebagai akibat paksaan dan tekanan Barat. Ketika Khilafah hancur pada 1924, Barat segera meracuni pemikiran umat Islam dengan menulis berbagai buku yang menyatakan bahwa Islam adalah agama demokratis, atau bahwa demokrasi berasal dari ajaran Islam (Zallum, 1994: 135-136).
Maka dari itu, siapa saja yang mengatakan bahwa demokrasi adalah bagian ajaran Islam, misalnya dengan mengatakan demokrasi adalah syura itu sendiri, berarti dia telah bersekutu dengan para penjajah yang kafir untuk turut menghancurkan Islam dan menyesatkan umat Islam. Propaganda demokrasi yang palsu dan penuh pemaksaan ini tak punya tujuan lain, kecuali untuk mencegah bangkitnya ideologi Islam dalam sebuah sistem Khilafah, sekaligus untuk melestarikan hegemoni ideologi Kapitalisme-demokratik yang kufur di seluruh dunia, agar umat manusia tetap terus-menerus hidup dalam ketertindasan, penderitaan, dan kesengsaraan di dunia dan akhirat. Ini tentu sangat kejam, biadab dan gila. []
DAFTAR PUSTAKA (قائمة المراجع)
Al-Khalidi, Mahmud Abdul Majid. 1980. Qawaid Nizham Al-Hukm fi Al-Islam. Cetakan I. (Kuwait : Dar Al-Buhuts Al-‘Ilmiyyah).
Anonim. 1990. “Negara Nasional dan Cita-Cita Islam”. Bung Karno dan Islam. (Jakarta: Haji Masagung).
———-. 1994. Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah. Juz I. Cetakan IV. (Beirut : Darul Ummah).
———-. 2001. Nizham Al-Islam. Cetakan VI. (t.tp. : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir).
An-Nahwi, Adnan Ali. 1985. Asy-Syuura Laa Ad-Dimuqrathiyah. Cetakan II. (Kairo : Dar Ash-Shahwah).
Ibnu Manzhur. 1889. Lisanul ‘Arab. (Bulaq : Al-Mathba’ah Al-Amiriyah).
Thalib, Muhammad & Irfan S. Awwas (ed.). Tanpa Tahun. Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila : Menguak Tabir Pemikiran Politik Founding Fathers Republik Indonesia. (Yogyakarta : Wihdah Press). http://www.geocities.com/sabiluna/Zionisme/Bab10.html
Urofsky, Melvin I. et.al.. 2003. Demokrasi. Office of International Information Programs-U.S. Department of State. http:/usinfo.state.gov
Zallum, Abdul Qadim. 1990. Ad-Dimuqrathiyyah Nizham Kufr. (t.tp. : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir).
———-. 1994. Afkar Siyasiyah. Cetakan I. (Beirut : Darul Ummah).
———-. 2002. Nizham Al-Hukm fi Al-Islam. Cetakan VI. (t.tp. : Min Mansyurat Hizb Al-Tahrir).
Categories: As-Siyasiyah | Tags: , , | Leave a comment

50 Indikasi Destruktif Demokrasi


بسم الله الرحمن الرحيم

MUQADDDIMAH

Segala puji hanya milik Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya serta orang yang berwala’ kepadanya. Amma ba’du.

Ini adalah kajian singkat yang menjelaskan tentang beberapa indikasi destruktif dan bahaya yang ditimbulkan akibat terjun dan berkiprah dalam kancah demokrasi yang banyak orang tertipu dengannya dan menggantungkan harapan mereka kepadanya meskipun hal ini jelas-jelas bertentangan dengan manhaj Allah sebagaimana yang akan dijelaskan dalam kajian yang singkat ini, apalagi banyak sudah pengalaman pahit yang didapat oleh orang yang tertipu dengan permainan ini dan ditampakkan sisi penyimpangan dan kesesatannya.

Penyusun

50 Indikasi Destruktif Demokrasi

Dengan memohon taufiq kepada Allah, kami berusaha memaparkan beberapa indikasi destruktif (kerusakan) demokrasi, pemilihan umum dan berpartai:

1. Demokrasi dan hal-hal yang berkaitan dengannya berupa partai-partai dan pemilihan umum merupakan manhaj jahiliyah yang bertentangan dengan Islam, maka tidak mungkin sistem ini dipadukan dengan Islam karena Islam adalah cahaya sedangkan demokrasi adalah kegelapan.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat dan tidak (pula) kegelapan dengan cahaya.” (Surat Faathir:19-20)

Islam adalah hidayah dan petunjuk sedangkan demokrasi adalah penyimpangan dan kesesatan.

“Sungguh telas jelas petunjuk daripada kesesatan.” (Surat Al-Baqarah: 256)

Islam adalah manhaj rabbani yang bersumber dari langit sedangkan demokrasi adalah produk buatan manusia dari bumi. Sangat jauh perbedaan antara keduanya.

2. Terjun ke dalam kancah demokrasi mengand

Allah Ta’ala berfirman:ung unsur ketaatan kepada orang-orang kafir baik itu orang Yahudi, Nasrani atau yang lainnya, padahal kita telah dilarang untuk menaati mereka dan diperintahkan untuk menyelisihi mereka, sebagaimana hal ini telah diketahui secara lugas dan gamblang dalam dien.

“Wahai orang-orang yang beriman jika kalian menaati sekelompok orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah kamu beriman.” (Surat Ali ‘Imran: 100)

“Karena itu janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar.” (Surat Al-Furqaan: 52)

“Dan janganlah kamu menaati orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung(mu).” (Surat Al-Ahzaab: 48)

Dan ayat-ayat yang sen

ada dengan ini sangat banyak dan telah menjadi maklum.

3. Sistem demokrasi memisahkan antara dien dan kehidupan, yakni dengan mengesampingkan syari’at Allah dari berbagai lini kehidupan dan menyandarkan hukum kepada rakyat agar mereka dapat menyalurkan hak demokrasi mereka –seperti yang mereka katakan– melalui kotak-kotak pemilu atau melalui wakil-wakil mereka yang duduk di Majelis Perwakilan.

4. Sistem demokrasi membuka lebar-lebar pintu kemurtadan dan zindiq, karena di bawah naungan sistem thaghut ini memungkinkan bagi setiap pemeluk agama, madzhab atau aliran tertentu untuk membentuk sebuah partai dan menerbitkan mass media untuk menyebarkan ajaran mereka yang menyimpang dari dienullah dengan dalih toleransi dalam mengeluarkan pendapat, maka bagaimana mungkin setelah itu dikatakan, “Sesungguhnya sistem demokrasi itu sesuai dengan syura dan merupakan satu keistimewaan yang telah hilang dari kaum muslimin sejak lebih dari seribu tahun yang lalu,” sebagaimana ditegaskan oleh sejumlah orang jahil, bahkan (ironisnya) hal ini juga telah ditegaskan oleh sejumlah partai Islam yang dalam salah satu pernyataan resminya disebutkan:

“Sesungguhnya demokrasi dan beragamnya partai merupakan satu-satunya pilihan kami untuk membawa negeri ini menuju masa depan yang lebih baik.”

5. Sistem demokrasi membuka pintu syahwat dan sikap permissivisme (menghalalkan segala cara) seperti minum arak, mabuk-mabukan, bermain musik, berbuat kefasikan, berzina, menjamurnya gedung bioskop dan hal-hal lainnya yang melanggar aturan Allah di bawah semboyan demokrasi yang populer,”Biarkan dia berbuat semaunya, biarkan dia lewat dari mana saja ia mau,” juga di bawah semboyan “menjaga kebebasan individu.”

6. Sistem demokrasi membuka pintu perpecahan dan perselisihan, mendukung program-program kolonialisme yang bertujuan memecah-belah dunia Islam ke dalam sukuisme, nasion

alisme, negara-negara kecil, fanatisme golongan dan kepartaian. Hal ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu, maka bertaqwalah kepada-Ku.” (Surat Al-Mukminun: 52)

Juga bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (dien) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Surat Ali ‘Imran: 103)

Dan firman-Nya:

“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu gagal dan hilang kekuatanmu.” (Surat Al-Anfal: 46)

7. Sesungguhnya orang yang bergelut dengan sistem demokrasi harus mengakui institusi-institusi dan prinsip-prinsip kekafiran, seperti piagam PBB, deklarasi Dewan Keamanan, undang-undang kepartaian dan ikatan-ikatan lainnya yang menyelisihi syari’at Islam. Jika ia tidak mau mengakuinya, maka ia dilarang untuk melaksanakan aktivitas kepartaiannya dan dituduh sebagai seorang ekstrim dan teroris, tidak mendukung terciptanya perdamaian dunia dan kehidupan yang aman.

8. Sistem demokrasi memvakumkan hukum-hukum syar’i seperti jihad, hisbah, amar ma’ruf nahi munkar, hukum terhadap orang yang murtad, pembayaran jizyah, perbudakan dan hukum-hukum lainnya.

9. Orang-orang murtad dan munafiq dalam naungan sistem demokrasi dikategorikan ke dalam warga negara yang potensial, baik dan mukhlis, padahal dalam tinjauan syar’i mereka tidak seperti itu.

10. Demokrasi dan pemilu bertumpu kepada suara mayoritas tanpa tolak ukur yang syar’i.

Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan jika kamu mentaati kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (Surat Al-An’am: 116)

“Akan tetapi kebanyakan manusia itu tidak mengetahui.” (Surat Al-A’raf: 187)

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Surat Saba’: 13)

11. Sistem ini membuat kita lengah akan tabiat pergolakan antara jahiliyah dan Islam, antara haq dan batil, karena keberadaan salah satu di antara keduanya mengharuskan lenyapnya yang lain, selamanya tidak mungkin keduanya akan bersatu. Barangsiapa mengira bahwa dengan melalui pemilihan umum fraksi-fraksi jahiliyah akan menyerahkan semua institusi-institusi mereka kepada Islam, ini jelas bertentangan dengan rasio, nash dan sunah (keputusan Allah) yang telah berlaku atas umat-umat terdahulu.

“Tiadalah yang mereka nanti melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) atas orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapati perubahan bagi sunnatullah dan sekali-kali tidak (pula) akan mendapati perpindahan bagi sunnatullah itu.” (Surat Faathir: 43)

12. Sistem demokrasi ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid’ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

13. Sistem demokrasi tidak membedakan antara orang yang alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar’i. padahal Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui.” (Surat Az-Zumar: 9)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasiq? Mereka tidaklah sama.” (Surat As-Sajdah: 18)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Maka apakah Kami patut menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu berbuat demikian, bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (Surat Al-Qalam: 35-36)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Dan anak laki-laki (yang ia nadzarkan itu) tidaklah seperti anak perempuan (yang ia lahirkan).” (Surat Ali Imran: 38)

14. Sistem ini menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan para aktivis dakwah dan jamaah-jamaah Islamiyah, karena terjun dan berkiprahnya sebagian dari mereka ke dalam sistem ini (mau tidak mau) akan membuat mereka mendukung dan membelanya serta berusaha untuk mengharumkan nama baiknya yang pada gilirannya akan memusuhi siapa yang dimusuhi oleh sistem ini dan mendukung serta membela siapa yang didukung dan dibela oleh sistem ini, maka ujung-ujungnya fatwa pun akan simpang-siur tidak memiliki kepastian antara yang membolehkan dan yang melarang, antara yang memuji dan yang mencela.

15. Di bawah naungan sistem demokrasi permasalahan wala’ dan bara’ menjadi tidak jelas dan samar, oleh karenanya ada sebagian orang yang berkecimpung dan menggeluti sistem ini menegaskan bahwa perselisihan mereka dengan partai sosialis, partai baath dan partai-partai sekuler lainnya hanya sebatas perselisihan di bidang program saja bukan perselisihan di bidang manhaj dan tak lain seperti perselisihan yang terjadi antara empat madzhab, dan mereka mengadakan ikatan perjanjian dan konfederasi untuk tidak mengkafirkan satu sama lain dan tidak mengkhianati satu sama lain, oleh karenanya mereka mengatakan adanya perselisihan jangan sampai merusakkan kasih sayang antar sesama!!

16. Sistem ini akan mengarah pada tegaknya konfederasi semu dengan partai-partai sekuler, sebagai telah terjadi pada hari ini.

17. Sangat dominan bagi orang yang berkiprah dalam kancah demokrasi akan rusak niatnya, karena setiap partai berusaha dan berambisi untuk membela partainya serta memanfaatkan semua fasilitas dan sarana yang ada untuk menghimpun dan menggalang massa yang ada di sekitarnya, khususnya sarana yang bernuansa religius seperti ceramah, pemberian nasehat, ta’lim, shadaqah dan lain-lain.

18. (Terjun ke dalam kancah demokrasi) juga akan mengakibatkan rusaknya nilai-nilai akhlaq yang mulia seperti kejujuran, transparansi (keterusterangan) dan memenuhi janji, dan menjamurnya kedustaan, berpura-pura (basa-basi) dan ingkar janji.

19. Demikian pula akan melahirkan sifat sombong dan meremehkan orang lain serta bangga dengan pendapatnya masing-masing karena yang menjadi ini permasalahan adalah mempertahankan pendapat. Dan Allah Ta’ala telah berfirman:

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka (masing-masing).” (Surat Al-Mukminun: 53)

20. Kalau kita mau mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui demokrasi berarti menikam (menghujat) para Rasul dan risalah (misi kerasulan) mereka, karena al-haq (kebenaran) kalau diketahui melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka tidak ada artinya diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak menyelisihi mayoritas manusia yang menganut aqidah yang sesat dan menyimpang dan memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

21. Sistem demokrasi membuka pintu keraguan dan syubhat serta menggoncangkan aqidah umat Islam, terlebih lagi kita hidup di masa dimana ulama robbaninya sangat sedikit sedang kebodohan tersebar dimana-mana. Maka lantaran terbatasnya ilmu, banyak orang-orang awam yang jiwanya down dan goncang dalam menghadapi gelombang besar dan arus deras dari berbagai partai, surat kabar, dan pemikiran-pemikiran yang destruktif.

22. Melalui dewan-dewan perwakilan dapat diketahui bahwa sesungguhnya sistem demokrasi berdiri di atas asas tidak mengakui adanya Al-Hakimiyah Lillah (hak pemilikian hukum bagi Allah), maka terjun ke dalam sistem demokrasi kalau bertujuan untuk menegakkan argumen-argumen dari Al-Quran dan Sunnah maka hal ini tidak mungkin diterima oleh anggota dewan karena yang dijadikan hujjah oleh mereka adalah suara mayoritas dan andapun mau tidak mau harus mengakui suara mayoritas tersebut, maka bagaimana anda akan menegakkan hujjah dengan Al-Quran dan Sunnah sedangkan mereka tidak mengakui keduanya. Meskipun anda menguatkan (argumen anda) dengan berbagai dalil-dalil syar’i maka dalam pandangan mereka hal itu tidak lebih dari sekedar pendapat anda saja, bagi mereka dalil-dalil tersebut tidak memiliki nilai sakral sedikitpun karena mereka menginginkan –seperti yang mereka katakan– untuk membebaskan diri dari hukum ghaib yang tidak bersumber dari suara mayoritas dan pertama kali yang mereka tentang adalah hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka pengakuan anda terhadap prinsip thaghut ini –yakni kebijakan hukum di tangan suara mayoritas dan pengakuan anda akan hal itu demi memenuhi tuntutan massamu– berarti meruntuhkan prinsip “hak pemilikan dan penentuan hukum mutlaq bagi Allah semata.” Dan manakala anda menyepakati bahwa suara mayoritas merupakan hujjah yang dapat menyelesaikan perselisihan maka tidak ada gunanya lagi anda membaca Al-Quran dan hadits karena keduanya bukan hujjah yang disepakati di antara kalian.

23. Kita tanyakan kepada para aktivis dakwah yang tertipu dengan sistem ini: Jika kalian sudah sampai pada tampuk kekuasaan apakah kalian akan menghapuskan demokrasi dan melarang eksisnya partai-partai sekuler? Padahal kalian telah sepakat dengan partai-partai lain sesuai dengan undang-undang kepartaian bahwa pemerintahan akan dilaksanakan secara demokrasi dengan memberi kesempatan kepada seluruh partai untuk berpartisipasi aktif. Jika kalian mengatakan bahwa sistem demokrasi ini akan dihapus dan partai-partai sekuler dilarang untuk eksis berarti kalian berkhianat dan mengingkari perjanjian kalian merkipun perjanjian tersebut (pada hakekatnya) adalah bathil. Sedangkan Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan jika kamu mengetahui pengkhianatan dari suatu kaum (golongan), maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (Surat Al-Anfal: 58)

Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Akan ditancapkan sebuah bendera bagi setiap orang yang ingkar pada hari kiamat kelak.” (HR. Bukhary)

Adapun hadits yang menyatakan bahwa perang itu adalah tipu daya, tidak termasuk dalam pembahasan ini. Dan jika kalian mengatakan kami akan menegakkan hukum demokrasi dan mentolerir berdirinya partai-partai berarti ini bukanlah pemerintahan yang Islami.

24. Sistem demokrasi bertentangan dengan prinsip taghyir (perubahan) dalam Islam yang dimulai dari mencabut segala yang berbau jahiliyah dari akar-akarnya lalu mengishlah (memperbaiki) jiwa-jiwa manusia.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada diri mereka sendiri.” (Surat Ar-Ra’du: 11)

Maka prinsip perbaikan ekonomi, politik dan sosial adalah mengikuti perbaikan jiwa manusia-manusianya, bukan sebaliknya.

25. Sistem ini bertentangan dengan nash-nash yang qath’i yang mengharamkan menyerupai orang-orang kafir baik dalam akhlaq, gaya hidup, tradisi ataupun sistem dan perundang-undangan mereka.

26. Dan yang sangat membahayakan, sistem demokrasi dan pemilu dapat mengestablishkan (mengukuhkan posisi) orang-orang kafir dan munafiq untuk memegang kendali kekuasaan atas kaum muslimin –dengan cara yang syar’i– menurut perkiraan sebagian orang-orang yang jahil. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

“Janji-Ku (untuk menjadikan keturunan Nabi Ibrahim sebagai pemimpin) ini tidak mengenai orang-orang dzalim.” (Surat Al-Baqarah: 124)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (Surat An-Nisaa’: 141)

Berapa banyak orang-orang muslim yang awam tertipu dengan sistem seperti ini sehingga mereka mengira bahwa pemilu adalah cara yang syar’i untuk memilih seorang pemimpin!!

27. Demokrasi mengaburkan dan meruntuhkan pengertian syura yang benar, karena minimal syura itu berbeda dengan demokrasi dalam tiga prinsip dasar:

a. Dalam sistem syura, sebagai pembuat dan penentu hukum adalah Allah sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Menetapkan hukum itu adalah hak Allah.” (Surat Al-An’am: 57)

Sedangkan demokrasi tidak seperti itu karena penentu hukum dan kebijaksanaan berada pada selain Allah (yakni di tangan suara mayoritas).

b. Syura dalam Islam hanya diterapkan dalam masalah-masalah ijtihadi yang tidak ada nashnya ataupun ijma’, sedangkan demokrasi tidaklah demikian.

c. Syura dalam Islam hanya terbatas dilakukan oleh orang-orang yang termasuk dalam Ahlu’l-Halli wa’l-Aqdi, orang-orang yang berpengalaman dan mempunyai spesifikasi tertentu, sedangkan demokrasi tidak seperti itu sebagaimana telah dijelaskan pada point terdahulu.

28.Terjun ke dalam kancah demokrasi akan dihadapkan pada perkara-perkara kufur dan menghujat syariat Allah, mengolok-oloknya dan mencemooh orang-orang yang berusaha untuk menegakkannya, karena setiap kali dijelaskan kepada mereka bahwa hukum yang mereka buat bertentangan dengan ajaran Islam, mereka akan mencemooh syariat Islam yang bertentangan dengan undang-undang mereka dan mencemooh orang-orang yang berusaha untuk memperjuangkannya. Maka menutup erat-erat pintu yang menuju ke sana dalam hal ini sangat diperlukan.

Allah Ta’ala berfirman:

“Oleh sebab itu berilah peringatan, karena peringatan itu sangat bermanfaat.” (Surat Al-A’la: 9)

Dan Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu memaki-maki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Surat Al-An’am: 108)

29. Masuk ke dalam kancah demokrasi dapat menyingkap data-data tentang harakah Islamiyah dan sejauh mana peran dan pengaruhnya terhadap rakyat yang pada gilirannya harakah tersebut akan dihabisi dan dimusnahkan sampai ke markasnya. Maka jelas hal ini sangat merugikan dan membahayakan sekali.

30. Demokrasi akan membuat harakah Islamiyah dikendalikan oleh orang-orang yang tidak kufu’ (yang tidak memiliki pengetahunan dan pemahaman tentang Dien yang cukup), karena yang menjadi pemimpin harus sesuai dengan hasil partai dalam sistem kerja maupun pelaksanaan programnya harus sesuai dengan asas pemilu.

31. Dari hasil kajian dan pemantauan langsung di lapangan telah terbukti gagal dan tidak ada manfaatnya sistem ini, di mana banyak para aktivis dakwah di pelbagai negara seperti Mesir, Aljazair, Tunisia, Yordania, Yaman, dan lain-lain yang telah ikut berperan dalam pentas demokrasi ini, namun hasilnya sama-sama telah diketahui “hanya sekedar mimpi dan fatamorgana” sampai kapan kita masih akan tertipu?

32. Orang yang mau memperhatikan dan mencermati akan tahu bahwa sistem demokrasi akan menyimpangkan alur shahwah Islamiyah (kebangkitan Islam) dari garis perjalanannya, melalaikan akan tujuan dasarnya dan juga akan menjurus kepada perubahan total yang mendasar dan menyeluruh, yang hanya bertumpu pada prediksi dan khayalan belaka.

33. (Diberlakukannya sistem demokrasi) berarti menafikan peran ulama dan menghilangkan kedudukan mereka di mata masyarakat padahal merekalah yang memiliki ilmu dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka sudah tidak lagi ditaati dan dijadikan sebagai pemimpin lantaran kebijaksanaan hukum berada di tangan mayoritas.

34. Sistem demokrasi memupuskan minat dan semangat untuk mendalami ilmu syar’i dan tafaqquh fi’d-dien dan menyibukkan manusia dalam hal-hal yang tidak bermanfaat.

35. Sistem demokrasi menyebabkan terhentinya ijtihad, karena tidak ada istilah mujtahid dan muqollid dalam barometer demokrasi, semuanya adalah mujtahid tanpa perlu memiliki perangkat ijtihad atau melihat kepada dalil-dalil syar’i.

36. Sistem ini dapat menyebabkan hancur dan binasanya harakah Islamiyah, karena sering kali harakah-harakah ini bertikai dan berkonfrontasi dengan orang-orang yang menyelisihi mereka tanpa mempunyai kemampuan dan persiapan untuk menghadapi musuh.

37. Menurut sebagian aktivis dakwah, tujuan mereka masuk ke dalam sistem ini adalah untuk menegakkan hukum Allah. Padahal mereka tidak akan mewujudkannya kecuali dengan mengakui bahwa rakyat adalah sebagai penentu dan pembuat hukum, ini berarti ia telah menghancurkan tujuan (yang ingin dicapainya) dengan sarana yang dipergunakannya.

38. Demokrasi adalah sebuah sistem yang menipu rakyat pada hari ini, dengan propagandanya hukum berada di tangan rakyat dan rakyatlah sebagai pemegang keputusan, padahal pada hakekatnya tidaklah demikian.

39. Demokrasi menyita dan menghabiskan waktu dan tenaga para ulama dan aktivis dakwah, dan membuat mereka lalai dari membina umat dan dari berkonsentrasi untuk mengajarkan dienul Islam kepada manusia.

40. Dalam sistem demokrasi kekuasaan dibatasi sampai pada masa tertentu, jika masanya telah berakhir maka ia harus turun untuk digantikan dengan yang lainnya., kalau tidak maka akan terjadi pertikaian dan peperangan, padahal bisa jadi sebenarnya dialah yang paling berhak (karena memiliki kemampuan dan kecakapan yang memenuhi persyaratan sebagai seorang pemimpin) namun karena masa jabatannya telah habis ia diganti oleh orang lain yang tidak memiliki kemampuan seperti dirinya. Maka hal ini akan membuka pintu fitnah dan sikap membelot dari penguasa yang sah, padahal telah diketahui bahwa keluar (membelot) dari penguasa itu tidak boleh kecuali jika penguasa tersebut terlihat melakukan kekafiran yang nyata dan pembelotannya dapat mewujudkan kemaslahatan yang berarti serta memiliki kemampuan untuk melakukan hal tersebut.

41. Dewan-dewan perwakilan adalah dewan-dewan thaghut yang tidak dapat dipercaya untuk mengakui bahwa pemilik dan penentu hukum secara mutlaq adalah Allah, maka tidak boleh duduk bersama mereka di bawah payung demokrasi, karena Allah Ta’ala telah berfirman:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Quran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan dicemoohkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.” (Surat An-Nisaa’: 140)

Dan juga dalam firman-Nya:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang menghina ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini) maka janganlah kamu duduk lagi bersama orang-orang yang dzalim itu sesuadah teringat (akan larangan itu).” (Surat Al-An’am: 68)

42. Demokrasi pada hakekatnya menikam (menghujat) Allah serta melecehkan hikmah dan syariat-Nya. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pertama, kita katakan sesungguhnya Allah telah mengutus para Rasul dan mewajibkan manusia untuk menaati mereka, mengancam orang yang tidak taat dengan neraka dan kebinasaan, menurunkan kitab-kitab suci sebagai pemutus perkara di antara manusia. Dia menghalalkan dan mengharamkan, mewajibkan, memakruhkan dan mensunnahkan, memuji dan mencela, menghinakan dan memuliakan, mengangkat suatu kaum dan menjatuhkan kaum yang lain tanpa memandang dan melihat kondisi dan keadaan yang menyelisihi ajaran para Rasul. Bahkan ketika para Rasul tersebut datang, mayoritas manusia –kalau kita tidak mengatakan semuanya— dalam kesesatan dan dalam kungkungan kejahiliyahan yang membabi buta. Maka sekiranya demokrasi dan hak membuat dan memutuskan hukum yang berada di tangan rakyat itu benar, berarti semua perbuatan yang telah dilakukan Allah ini sia-sia belaka. Maha Suci Allah atas semua hal ini.

Kedua, kita katakan sekiranya demokrasi itu haq (benar), niscaya diturunkannya kitab-kitab suci dan diutusnya para Rasul merupakan tindakan semena-mena dan dzalim serta berbenturan dengan pendapat dan hak manusia untuk menghukumi mereka dengan hukum mereka sendiri. Maha Suci Allah dari segala bentuk kedzaliman.

Ketiga, sekiranya demokrasi itu haq, niscaya hukum tentang jihad dan tumpahnya darah orang-orang kafir yang menentang Islam serta hukum membayar jizyah dan perbudakan adalah tindak kedzaliman bagi mereka dan bertentangan dengan pendapat-pendapat mereka yang destruktif. Sikap seperti ini berarti menghujat syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sisi lain, sekiranya demokrasi itu haq, niscaya pengusiran iblis dari surga, pembinasaan kaum Nabi Nuh, ditenggelamkannya Fir’aun dan pasukannya serta kebinasaan yang menimpa kaum Nabi Hud, Shalih, Syu’aib, dan Luth, ini semua merupakan tindak kedzaliman atas mereka karena Allah mengadzab mereka lantaran pemikiran-pemikiran dan aqidah mereka yang destruktif.

Sisi lain, sekiranya demokrasi itu haq, niscaya hukuman rajam terhadap orang yang berzina dan hukuman cambuk terhadap orang yang minum arak merupakan tindak kekerasan dan kekejaman, dan mengusik kebebasan individu seperti dikatakan oleh orang-orang dzalim.

“Alangkah busuknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (Surat Al-Kahfi: 5)

Maha Tinggi Allah atas apa-apa yang diucapkan oleh orang-orang yang dzalim.

43. Di bawah naungan sistem demokrasi berbagai bid’ah dan kesesatan dengan berbagai macam pola tumbuh subur dan orang-orang yang menyerukannya dari berbagai thoriqot dan firqoh seperti Syiah, Rafidlah, Sufiah, Mu’tazilah, Kebatinan, dan lain-lainnya pun bermunculan. Bahkan di bawah naungan sistem ini mereka mendapatkan dukungan dan dorongan dari orang-orang munafik yang berada di dalamnya dan juga dari kekuatan-kekuatan yang terselubung dari pihak luar. Dan Allah tetap memiliki urusan terhadap makhluk-makhluk ciptaan-Nya.

44. Sebaliknya bertubi-tubi tuduhan dan dakwaan yang ditujukan kepada para aktivis dakwah dengan menjelekkan citra mereka di mata masyarakat umum sehingga mereka dijuluki sebagai pencari kedudukan, harta dan jabatan, dan mereka juga dijuluki sebagai penjilat dan masih banyak lagi julukan-julukan dusta lainnya sebagai akibat diberlakukannya asas bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat serta menghujat harga diri orang lain.

45. Orang yang berada di dalam sistem ini dipaksa untuk bergabung dalam satu barisan bersama partai-partai murtad dan zindiq dalam mempertahankan prinsip-prinsip jahiliyah seperti deklarasi-deklarasi internasional, kebebasan pers, kebebasan berpikir, kebebasan etnis Arab,

46. Sistem ini akan mengakibatkan hancurnya perekonomian dan disia-siakannya harta rakyat, karena anggaran belanja negara akan dialokasikan oleh partai-partai berkuasa demi memenuhi ambisi mereka dengan membangun gedung-gedung dan menjalankan kampanye pemilihan umum sesuai dengan yang mereka rencanakan dan agar partai-partai tersebut dapat mewujudkan pembelian dukungan (penggalangan dan pengumpulan massa) dengan iming-iming materi yang menggiurkan.

47. Sistem ini memadukan antara haq dan bathil, jahiliyah dan Islam, serta antara ilmu dan kebodohan.

48. Demokrasi mencabik-cabik jati diri umat Islam dan menjatuhkan kewibawaan mereka melalui penghujatan atas syari’at dan tuduhan bahwa syari’at tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman, juga melalui pengebirian sejarah dan hukum Islam dan mengilustrasikan bahwa Islam itu diktator tidak seperti demokrasi. Di samping itu demokrasi berarti meleburkan umat Islam secara membabi buta ke dalam satu wadah bersama orang-orang barat dari golongan Yahudi dan Nasrani yang memendam dendam kesumat kepada umat Islam.

49. Sistem ini akan membuat labilnya keamanan suatu negeri dan terjadinya persaingan antar partai yang tidak berujung pangkal, maka manakala sistem ini diterapkan di suatu negara, niscaya akan tersebar rasa takut, cemas, persaingan antar penganut aqidah, aliran, fanatisme golongan dan keturunan, sikap oportunis dan bentuk-bentuk persaingan tidak sehat lainnya.

50. Kalaupun ada kemaslahatan yang dapat dipetik dari berkiprah dalam demokrasi dan pemilihan umum, kemaslahatan ini masih bersifat parsial dan masih samar jika dibandingkan dengan sebagian kerusakan besar yang ditimbulkannya apalagi jika dibandingkan dengan keseluruhannya. Dan orang yang mengamati secara obyektif atas sebagian yang telah disebutkan akan menjadi jelas baginya ketimpangan sistem thoghut ini dan jauhnya dari dienullah bahkan sesungguhnya demokrasi adalah aliran dan sistem yang paling berbahaya yang dipraktekkan di dunia saat ini, ia merupakan induk kekafiran, dimana memungkinkan setiap aliran dan agama baik itu Yahudi, Nasrani, Majusi, Budha, Hindu dan Islam untuk hidup di bawah naungannya. Dalam barometer demokrasi semua pendapat mereka dihargai dan didengar, mereka berhak untuk mempraktekkan dan mengamalkan aqidah mereka dengan seluruh sarana dan fasilitas yang ada. Cukuplah hal ini sebagai tanda zindiq dan keluar dari dien Islam, maka bagaimana mungkin setelah ini dikatakan sesungguhnya demokrasi itu sesuai dengan Islam atau Islam itu adalah sistem demokrasi atau demokrasi itu adalah syura sebagaimana dikatakan oleh sejumlah orang yang menggembar-gemborkan sistem ini sebagai sistem Islam.

PENUTUP

Akhirnya kami mengharap dari setiap saudara yang berambisi untuk memperjuangkan Dienullah untuk benar-benar mencermati serta mengkaji kembali kerusakan-kerusakan ini, dan melihat kepadanya secara obyektif jauh dari fanatik individu, badan, atau institusi tertentu karena kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti dan hikmah merupakan barang orang mu’min yang hilang dimanapun ia mendapatkannya maka ia berhak atasnya. Kami memohon kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang agung agar menyatukan hati-hati kaum muslimin di atas ketaatan kepada-Nya dan menyatukan barisan mereka di atas Al-Haq dan ittiba’ (mengikuti tuntunan dan garis perjuangan yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Karena Dialah Yang Maha Kuasa atas hal tersebut. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada penutup para Nabi dan Rasul Nabi kita Muhammad, segenap keluarganya, sahabat-sahabatnya dan orang-orang yang meniti jejaknya dan mengikuti sunnahnya sampai hari kiamat.

*Judul Asli

Khomsuuna Mafsadah Jaliyyah min Mafaasidi’d-Dimoqratiyyah wa’l-Intikhobaat wa’l-Hizbiyyah

Penulis Syeikh Abdul Majid bin Mahmud Ar-Reimy

Categories: Jihad | Tags: , | Leave a comment

Rakyat jelata dilarang nyelonong di depan Presiden SBY

JAKARTA (Arrahmah.com)  – Sungguh sial nasib pria berusia 65 tahun ini. Hanya gara-gara melintas di depan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dengan menuntun sepeda ontelnya yang sudah butut, ia harus diinterogasi hingga malam oleh petugas keamanan.

Aksi ‘slonong boy rakyat kecil’ yang mengagetkan Pasukan Pengamanan Presiden itu terjadi usai SBY membuka ASEAN Fair di kompleks Bali Tourism Development Corporation, Nusa Dua, Bali, Senin (24/10/2011) kemarin. Kejadian itu berlangsung saat Presiden sedang asyik menyaksikan akrobat pesawat.

Tiba-tiba seorang pria tua yang mengenakan seragam hijau bertuliskan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) melintas tepat di depan podium SBY yang berjarak hanya sekitar 5 meter.
Dia mengenakan sepeda tua dengan mengangkut karung dan kelapa di belakang sepedanya.

Padahal, sampai sekitar 100 meter dari Presiden SBY, pengamanan sangat ketat. Tapi, pria pembawa sepeda ontel yang belakangan diketahui bernama Nyoman Minta itu melenggang melintas di depan Presiden SBY.

Paspampres lalu sadar dan menyergap pria tadi. Puluhan orang menghampiri petugas kebersihan itu. Kedua tangannya dipegang erat oleh Paspampres. Bahkan, Pangdam Udayana Mayjen TNI Leonard Louk dan Kapolda Bali Inspektur Jenderal Polisi Totoy Herawan Indera langsung turun.

“Saya cuma petugas DKP pak,” kata orang itu. “Bagaimana kalau kamu teroris?” teriak salah seorang petugas keamanan. Kehebohan itu sempat mengundang perhatian semua undangan. Kondisi sudah berlangsung kondusif dan petugas kebersihan tadi masih dalam pemeriksaan aparat berwenang.

Nyoman mengaku tidak tahu jika ada Presiden SBY di lokasi yang dilintasinya. Pria asal Mumbul, Kecamatan Kuta Selatan itu mengaku biasa melintasi jalan itu setiap harinya.

“Saya tidak tahu ada Presiden,” kata Subrata saat menjalani rekonstruksi bagaimana dia bisa lolos di hadapan Panglima Kodam IX Udayana Mayjen TNI Leonard Louk dan Kapolda Bali Inspektur Jenderal Polisi Totoy Herawan Indera.

Nyoman menjalani pemeriksaan petugas dan mendapat pengawalan ketat. Dia menjelaskan bagaimana bisa dengan santainya melintas di depan SBY sambil membawa sepeda ontel penuh karung berisi kelapa.

“Saya tak diberi tahu kalau ada Presiden. Saya biasa mencari kelapa di sini,” kata dengan mimik bingung bercampur takut.

Sejak pagi hari usai insiden itu, Nyoman langsung ditahan petugas untuk menjalani reka ulang peristiwa. Rekonstruksi dilakukan di lokasi kejadian untuk mengetahui bagaimana Nyoman bisa lolos dari pengamanan ketat di ring terdalam SBY.

Bahkan hingga Senin larut malam, Nyoman masih diinterogasi di Markas Polsek Kuta Selatan, Bualu, Bali. Terkait insiden tersebut, keluarga, tetangga, dan aparat desa menjaminkan diri agar Nyoman Minta tak ditahan.

“Saya siap menjaminkan diri. Saya yakin, dia tidak ada indikasi untuk melakukan sesuatu terhadap Presiden,” kata Wayan Solo, Lurah Tanjung Benoa, lokasi tempat tinggal Nyoman di Bali, Selasa (25/10/2011).

Nyoman Minta tinggal di Kampung Banjarceluk, Desa Mumbul, Kelurahan Tanjung Beno, Kecamatan Kuta Selatan, Bali. Wayan Solo dan sejumlah warga yang ada di kampung ini menolak memberitahu di mana posisi rumah Nyoman Minta.

Wayan yakin, Nyoman Minta tidak akan bertindak jahat saat melintas di depan SBY. Nyoman yang tidak bisa membaca dan menulis itu hanya melakukan pekerjaan rutin sehari-hari.

“Dia memang biasa membersihkan di situ sambil nyambit rumput. Lalu rumputnya dibawa pulang untuk pakan ternak,” kata Wayan. Nyoman Minta merupakan petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan dari Bali Tourism Development Corporation (BTDC).

Gara-gara ‘salah jalan’ melewati area tempat duduk pemimpin negara kakek tua tersebut harus rela sepeda ontelnya disita untuk sementara waktu. Hal ini sungguh berbeda dengan contoh kepemimpinan jika kita membawa sirah Rasulullah.

Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin hidup layaknya rakyat jelata. Tak ada pengawalan ketat apalagi fasilitas mewah untuk para pemimpin suatu bangsa. Bahkan rakyat dengan bebasnya menyampaikan pendapat dan curhat pada memimpinnya sekalipun berada di jalan.

Mari kita tengok sejarah kepemimpinan Umar bin Khatab RA. Ketika beliau kedatangan beberapa utusan dari Kekaisaran Romawi ke kota Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin Khattab RA. Dalam benak mereka terbayanglah sosok Khalifah Umar bin Khattab RA yang akan mereka temui adalah seorang raja yang sedang duduk di atas singgasananya dalam sebuah istana yang megah dan mewah serta dikelilingi oleh para pengawal dan pasukan yang banyak.

Namun karena mereka tidak mengetahui di mana istana Khalifah Umar, maka mereka bertanya kepada salah seorang yang mereka temui di jalan dan memintanya untuk menuntun mereka untuk menemui Khalifah Umar. Lalu sampailah mereka di suatu tempat yang terdapat sebuah pohon kurma, lalu sang penunjuk jalan berkata : “Inilah Khalifah Umar pemimpin kami yang anda ingin temui.”

Terperanjatlah para utusan itu karena yang mereka lihat adalah seseorang yang sedang tidur sendirian di bawah pohon kurma, hanya mengenakan pakaian yang sangat sederhana tanpa seorangpun pengawal di sampingnya.

Namun zaman sekarang, sepertinya pemimpin adalah sosok ‘istimewa’ sehingga sekedar melintas saja langsung dicurigai sebagai teroris. Bagaimana kalau sampai mengajukan kritikan? Bisa jadi langsung dituduh sebagai ‘aksi merongrong pemerintahan yang patut dicurigai dan dikuntit oleh agen lintelejen’. Wallohua’lam. (dbs/arrahmah.com)

Categories: Berita | Tags: , | Leave a comment

Konstanta Kecepatan Cahaya Dalam Al Qur’an

Cahaya adalah bagian dari gelombang elektromagnetik sekaligus sebagai materi tercepat di jagat raya ini, dengan kecepatan gerak sebesar 299279.5 km/det yang dalam perhitungan dibulatkan menjadi 300000 km/det. Nilai kecepatan yang diberi simbol c ini telah diukur-dihitung dan ditentukan serta menjadi konsensus Internasional, oleh berbagai institusi berikut:

– US National Bureau of Standards, c = 299792.4574 + 0.0011 km/det.

– The British National Physical Laboratory, c = 299792.4590 + 0.0008 km/det.

– Konferensi ke-17 tentang Penetapan Ukuran dan Berat Standar, dimana “Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang vacum selama jangka waktu 1/299792458 detik”.

Selain beberapa institusi di atas, seorang Fisikawan Muslim dari Mesir yang bernama DR. Mansour Hassab El-Naby menemukan sebuah cara istimewa untuk mengukur kecepatan cahaya ini. Menurut Dr. El-Naby, nilai c tersebut bisa ditentukan/dihitung dengan tepat berdasar informasi dari dokumen yang sangat tua.

Perhitungan ini adalah menggunakan informasi dari kitab suci yang diturunkan 14 abad silam, Al-Quran, kitab suci umat Islam. Dalam Al-Quran dinyatakan:

Dialah (Allah) yang menciptakan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkanya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu agar kamu  mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” (Qs. Yunus:5)

Dialah (Allah) yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar dalam garis edarnya “  (Qs.Al Anbiya’:33).

Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Qs. As Sajadah :  5)

Berdasar ayat-ayat tersebut diatas, terutama ayat yang terakhir (Qs. As Sajadah :5) dapat disimpulkan bahwa jarak yang dicapai Sang Urusan selama satu hari sama dengan jarak yang ditempuh bulan selama 1000 tahun, dan karena satu tahun adalah 12 bulan, maka waktu tersebut menjadi 12000 bulan. Secara matematis dapat dituliskan sebagai:

c . t = 12000 . L

dimana :

c = kecepatan Sang Urusan
t = waktu selama satu hari
L = panjang rute edar bulan selama satu bulan

Panjang rute edar bulan selama satu bulan adalah panjang kurva yang dibentuk oleh bulan selama melakukan revolusi pada sistem periode bulan sideris. Periode bulan sebenarnya ada dua jenis, sideris dan sinodis. Berbagai sistem kalender telah diuji, namun sistem kalender bulan sideris menghasilkan nilai c yang persis sama dengan nilai c yang sudah diketahui melalui pengukuranDua macam sistem kalender bulan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sistem sinodis, yang didasarkan atas penampakan semu gerak bulan dan matahari dari bumi, dimana:

1 hari = 24 jam
1 bulan = 29.53059 hari

2. Sistem sideris, yang didasarkan atas pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta, dimana:

1 hari = 23 jam 56 menit 4.0906 detik = 86164.0906 detik
1 bulan = 27.321661 hari

Ada perbedaan antara periode bulan sideris dan sinodis. Pada periode sinodis, satu bulan penuh adalah 29.5 hari dimana posisi bulan kembali ke posisi semula tepat pada garis lurus antara matahari dan bumi, dan rutenya berupa lingkaran. Sementara pada periode bulan sideris satu bulan penuh ditempuh selama 27.3 hari dan rutenya bukan berupa lingkaran, melainkan berbentuk kurva yang panjangnya L. Nilai L ini secara matematis dapat dituliskan sebagai:

L = v . T

Dimana:

v = kecepatan gerak bulan
T = periode revolusi bulan
= 27.321661 hari

Sudut yang dibentuk oleh revolusi bulan selama satu bulan sideris, adalah:

a =  27.321661 hari / 365.25636 hari x 360º
a =  26.92848º

Sebuah catatan yang perlu diketahui adalah tentang kecepatan bulan (v). Ada dua tipe kecepatan bulan, yaitu:

1. Kecepatan relatif terhadap bumi yang bisa dihitung dengan rumus berikut:

ve = 2 . p . R / T

dimana

R = jari-jari revolusi bulan = 384264 km
T = periode revolusi bulan = 655.71986 jam

Jadi

ve = 2 x 3.14162 x 384264 km / 655.71986 jam
= 3682.07 km/jam

2. Kecepatan relatif terhadap bintang atau alam semesta. Kecepatan ini yang akan diperlukan untuk menentukan perhitungan kecepatan cahaya (sang urusan). Menurut Albert Einstein, kecepatan jenis kedua ini dapat dihitung dengan mengalikan kecepatan jenis pertama dengan Cos a, sehingga secara matematis:

v = ve x Cos a

Dimana:

a = sudut yang dibentuk oleh revolusi bumi selama satu bulan sideris,
= 26.92848º

Selanjutnya dengan mengingat beberapa parameter yang sudah diketahui berikut ini:

L = v . T,
v = ve . Cos a,
ve = 3682.07 km/jam,
a = 26.92848º,
T = 655.71986 jam, dan
t = 86164.0906 det,

maka nilai kecepatan sang urusan akan menjadi:

c.t = 12000 . L
c.t = 12000 . v.T
c.t = 12000 .(ve.Cos a).T
c = 12000.ve.Cos a.T/t
c = 12000 x 3682.07 km/jam x 0.89157 x 655.71986 jam/86164.0906 det
c = 299792.5 km/det

Jadi:

c = 299792.5 km/det

Kita bandingkan c (kecepatan sang urusan) hasil perhitungan ini dengan nilai c (kecepatan cahaya) sebagaimana yang sudah diketahui!

Nilai c hasil perhitungan => c = 299792.5 km/det

Nilai c hasil pengukuran:

  1. US National Bureau of Standards, c = 299792.4574 + 0.0011 km/det
  2. The British National Physical Laboratory, c = 299792.4590+0.0008 km/det
  3. Konferensi ke 17 tentang Ukuran dan Berat Standar “Satu meter adalah jarak tempuh cahaya dalam ruang hampa selama 1/299792458 detik”

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran surat ke 32 (As Sajdah) ayat : 1-5:

” Alif Lam Mim. Turunnya kitab ini tanpa keraguan padanya, dari Rabb semesta. Tetapi mengapa mereka mengatakan:”Ia (Muhammad saw) mengada-adakannya”. Sebenarnya ini adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi  peringatan sebelummu; agar mereka mendapat petunjuk Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam periode,kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada -Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?  Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitunganmu”

Kesimpulan:

“Perhitungan ini membuktikan keakuratan dan konsistensi nilai konstanta c hasil pengukuran selama ini dan juga menunjukkan kebenaran Al-Qur’anul karim sebagai wahyu yang patut dipelajari dengan analisis yang tajam karena penulisnya adalah Sang Pencipta Alam Semesta. Wallahu‘alam bish-showwab”

Written by Ibnu Maryam

Referensi:

  1. El-Naby, M.H., 1990, A New Astronomical Quranic Method for The Determination of
    The Greatest Speed c [ http://www.islamicity.org/Science/960703A.HTM ]
  2. Fix, John D. 1995, Astronomy, Journey of the Cosmic Frontier, 1st edition, Mosby-
    Year Book, Inc., St Louis, Missouri
  3. The Holy Quran online, [ http://islam.org/mosque/quran.htm ]
  4. Zuhdi, M. Presentasi kecepatan cahaya.
Categories: Sains | Tags: , , | Leave a comment

Sebuah Kisah Cinta Sejati dalam Ukhuwah Islamiyah

Preface (مقدمة)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam kita curahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW Asyrafil Anbiya-i wal-mursalin, amma ba’d.

Telah lazim di antara kita yang menyamakan “cinta” dengan hawa nafsu belaka, baik disadari maupun tidak disadari. Akibatnya banyak di antara ikhwan dan akhwat yang kemudian stress, depresi, dan lainnya lantaran “cinta”-nya tak tersampaikan. Ini diakibatkan rendahnya pemahaman mereka mengenai nilai sebuah “cinta”. Ana berharap agar kisah di bawah ini dapat dijadikan sebuah gembaran mengenai bagaimana sahabat Nabiyullah SAW mencintai saudaranya baik dari laki-laki maupun wanita.

The Story (القصة)

At Turmudzi:  Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘Anhuma berkata, “Salman al-Farisi Radliyallahu ‘Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, “Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian.

Salman Al-Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. wal hamdulillaah.”, girang Abu Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa. ”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya.

Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abu Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni. ”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati. ”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara. ”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

SUBHANALLAH..!! *** dari banyak sumber

Categories: Teladan | Tags: , , , , | Leave a comment

Shalat? NGAPAIN?!?!?! [1]

“Kartun Film Taubat” (gambar dari http://fatil-campbawaneters.blogspot.com)

بسم الله الرحمن الرحيم

Preface (مقدمة)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam kita curahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW Asyrafil Anbiya-i wal-mursalin, amma ba’d. Sebelum lanjut ke Main Article, ana ingin mengucapkan sepatah kata berikut ini:

NGAPAIN SIH SHALAT?

[Ini adalah post pertama mengenai Ngapain Shalat….]

Main Article (المادة الرئيسية)

Mungkin banyak diantara kita yang belum mau melaksanakan shalat, padahal shalat adalah ibadah yang paling diutamakan setelah syahadatain.

Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun atas lima pondasi: Yaitu persaksian bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) melainkan Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa ramadhan.”(HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sembahan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 25 dan Muslim no. 21)

Lalu bagaimana kedudukan shalat sunnah bagi kita? Bukankah shalat wajib saja sudah cukup?

Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata: Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Rabb kita Jalla wa ‘Azza berfirman kepada para malaikat-Nya -padahal Dia lebih mengetahui-, “Periksalah shalat hamba-Ku, sempurnakah atau justru kurang?” Sekiranya sempurna, maka akan dituliskan baginya dengan sempurna, dan jika terdapat kekurangan maka Allah berfirman, “Periksalah lagi, apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah?” Jikalau terdapat shalat sunnahnya, Allah berfirman, “Sempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat wajib hamba-Ku itu dengan shalat sunnahnya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Abu Daud no. 964, At-Tirmizi no. 413, An-Nasai no. 461-463, dan Ibnu Majah no. 1425. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 2571)

Penjelasan ringkas:
Shalat merupakan rukun Islam kedua dan merupakan amalan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Ar-Rasul -alaihishshalatu wassalam- menjadikannya sebagai penjaga darah dan harta, sehingga kapan seseorang meninggalkannya maka darah dan hartanya akan terancam. Karena sangat pentingnya shalat ini, sampai-sampai dialah amalan pertama yang hamba akan dihisab dengannya pada hari kiamat. Di dalam hadits Ibnu Mas’ud secara marfu’ disebutkan:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلَاةُ وَأَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

“Amalan pertama yang dengannya seorang hamba dihisab adalah shalat dan sesuatu pertama yang diputuskan di antara para manusia adalah mengenai darah.” (HR. An-Nasai no. 3926 dan selainnya)

Maksudnya, amalan yang berhubungan antara hamba dengan Allah, maka yang pertama kali dihisab darinya adalah shalat. Sementara amalan berhubungan antara makhluk dengan makhluk lainnya, maka yang pertama kali dihisab adalah dalam masalah darah.
Hadits Abu Hurairah di atas juga menunjukkan keutamaan shalat sunnah secara khusus, bahwa dia dijadikan sebagai penyempurna dari kekurangan yang terjadi dalam shalat wajib, baik kekurangan dari sisi pelaksanaan zhahir maupun kekurangan dari sisi batin dan roh shalat tersebut, yaitu kekhusyuan. Wallahu a’lam

Source and Link (الموارد والروابط)

http://al-atsariyyah.com/keutamaan-shalat.html

Note (مذكرة)

mengenai cara untuk mendapat kekhusyuan dalam shalat, Insya Allah akan ana post-kan pada kesmpatan yang lain.

Categories: Fiqh Ibadah | Tags: , | Leave a comment

Ash-Shuhada (الشهداء)

Mereka yang telah meninggalkan kita semua dengan senyum…

Dan memberikankan kesan yang baik pada diri mereka…

Click the picture to enlarge ^_^

Categories: Jihad, Teladan | Tags: , , , , | Leave a comment

Blog at WordPress.com.